Sepotong wajah dalam cermin
menatap dengan tatapan redup ke mataku
Mataku menatap matanya
Tajam, dalam, berisi ribuan pertanyaan
Garis alisnya tak bertaut
namun menegaskan guratan kelopak matanya
tegas terlipat bersambung bulu mata di ujungnya
Tatapannya sayu
tapi entah mengapa
sekeping hati di dalam cermin bagai tercengkram sesuatu
seperti terhujam sesuatu yang entah apa
aku menatapnya lebih dalam
Ia balas menatapku jauh lebih dalam
Aku bertanya:
Ada apakah di hatinya?
Adakah cinta yang sejati?
Cinta yang murni atau ternodai?
adakah keikhlasan tanpa selimut riya?
Adakah keteguhan dan ketegaran hati?
adakah kelembutan hati yang melembutkan jiwa?
adakah kesedihan dan duka?
karena apa? ketakutan akan dunia dan isinya-kah?
atau ketakutan tak mendapat Cinta dan Cahaya?
Ataukah hampa belaka?
Ia tergugu, matanya semakin lembut dan sayu
alis matanya mengerut
matanya bergetar, merah, basah
Satu dua tetes menjadi derai
Sepotong wajah dalam cermin masih menatapku
Aku melihat matanya menatap tajam menghujam
ke dalam hatiku
entah mengapa padahal itu mataku